Hamparan perbukitan hijau di perbatasan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Banjarnegara menyimpan rekam jejak dinamika bumi yang menakjubkan. Bergabung dalam Kelompok B11, saya mendapatkan kesempatan untuk mengeksplorasi Kavling 99 melalui kegiatan Pemetaan Geologi Mandiri 2026. Wilayah ini didominasi oleh Anggota Breksi Formasi Halang serta sebaran terbatas Formasi Halang. Menyusuri bentang alamnya menjadi petualangan ilmiah untuk membaca babak demi babak peristiwa geologi masa lalu yang membentuk kawasan ini.


Jejak vulkanisme kuno terbukti secara gamblang dari ditemukannya singkapan Lava Andesit masif serta hamparan Breksi Andesit. Cerita geologi berlanjut ketika langkah kaki mengarah ke area air terjun (curug), tempat tersingkapnya Perlapisan Batulanau Karbonatan dan Batupasir Karbonatan yang memunculkan buih saat diuji dengan larutan Asam Klorida (HCl). Menariknya, pada tebing curug berbatuan sedimen karbonatan ini terekam struktur Sesar Normal (sesar turun) yang memotong perlapisan batuan sebagai bukti adanya gaya ekstensional tektonik. Di lokasi lain, tersingkap pula perlapisan batulanau dan batupasir non-karbonatan milik Formasi Halang yang semakin melengkapi keragaman litologi di area pemetaan.

Eksplorasi medan yang menantang ini terasa kian berkesan berkat hadirnya Evan, adik kelas semasa SMA yang kini menempuh studi di Teknik Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta angkatan 2025, yang setia mendampingi perjalanan saya di lapangan sebagai porter. Kebersamaan di lapangan semakin lengkap saat bimbingan bersama Dosen Pembimbing saya, Pak Wayan, serta rekan-rekan Kelompok B11. Di sela-sela pemetaan, setiap perjumpaan dengan masyarakat lokal selalu saya manfaatkan untuk berbincang hangat. Saya mencoba menjelaskan tatanan geologi yang ada di kavling sekaligus mengedukasi warga mengenai potensi bencana geologi, mengingat kawasan perbukitan ini memiliki tingkat kerentanan tanah longsor yang lumayan tinggi.


Aksi edukasi langsung kepada masyarakat desa ini selaras dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyebaran pemahaman geologi dasar, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui pemahaman risiko dan mitigasi bencana longsor sejak dini. Pemetaan Geologi Mandiri 2026 akhirnya memberi pelajaran berharga bahwa tugas seorang geolog bukan sekadar mengumpulkan data ilmiah di lapangan, melainkan juga membagikan pengetahuan tersebut agar bermanfaat bagi keselamatan dan keberlanjutan hidup warga setempat.
Penulis: Rangga Dwi Wahyuditya
Humas Departemen | Oktober 2026