Pemetaan Daerah Parengan, Tuban: Antara Singkapan, Masyarakat, dan Pelajaran Kehidupan

Penulis: Tattaquna Ghulam Winuyaka

 

Wilayah Eksplorasi Kami: Parengan, Tuban

Parengan, sebuah kecamatan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mungkin sekilas terlihat seperti kawasan pedesaan biasa yang tenang. Namun, di balik perbukitan dan lahan pertaniannya, tersimpan sejarah panjang bumi yang terekam dalam batuan sedimen berumur Miosen hingga Pliosen. Daerah ini menjadi lokasi kuliah lapangan kami selama 20 hari, sebuah perjalanan yang bukan hanya mengasah keterampilan geologi, tetapi juga membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan dan masyarakat.

Secara regional, wilayah Tuban termasuk ke dalam Cekungan Jawa Timur Utara (East Java Basin). Cekungan ini terbentuk akibat interaksi tektonik antara Lempeng Eurasia dan Lempeng Indo-Australia yang menghasilkan serangkaian peristiwa sedimentasi dan tektonisme sejak Kala Tersier. Di wilayah pemetaan saya, rangkaian batuan sedimen yang tersingkap menunjukkan catatan perubahan lingkungan pengendapan dari dataran, daerah transisi, laut dangkal, hingga laut agak dalam.

Pada pemetaan kali ini saya mendapatkan empat formasi. Semuanya menarik, masing-masing memiliki “Identitas” yang saya kenali selama di lapangan. Semakin hari, “Identitas” itu semakin kuat, semakin menyatu, bonding dengan saya.

Formasi Tawun

Formasi ini umumnya tersusun atas batupasir, batulempung, dan batulempung karbonatan dengan sisipan batugamping. Secara litologi, Formasi Tawun merekam lingkungan pengendapan delta hingga estuari, dengan fosil foraminifera yang melimpah. Di lapangan, kami mendapati perlapisan bersifat lentur, menunjukkan energi pengendapan yang bervariasi.

Berdiri di dekat singkapan Formasi Tawun, saya membayangkan pertemuan derasnya aliran sungai dengan laut yang tenang di masa lalu—tempat air tawar dan air asin berbaur, membawa sedimen dan kehidupan. Suara riak air estuari seolah terdengar, burung-burung purba beterbangan di atasnya, dan aroma payau memenuhi udara, mengingatkan bahwa di sinilah darat dan laut pernah bersalaman jutaan tahun silam.

Formasi Ngrayong

Formasi Ngrayong dikenal luas sebagai formasi reservoir potensial di Jawa Timur. Litologinya didominasi batupasir kuarsa berwarna putih kuning kecokelatan, berbutir sedang–kasar, dan umumnya memiliki sortasi baik. Ketebalan perlapisan dapat mencapai beberapa meter, menunjukkan pengendapan di lingkungan delta front hingga shoreface berenergi tinggi. Dalam pengamatan kami, beberapa singkapan Ngrayong menunjukkan struktur sedimen seperti cross bedding dan ripple mark yang mempertegas proses pengendapan oleh arus dan gelombang.

Berdiri di tepi singkapan itu, rasanya seperti mundur jutaan tahun ke masa lalu. Seolah angin asin dari laut purba kembali berhembus, deburan ombaknya terdengar samar di telinga, dan aroma khas pantai memenuhi udara. Di saat itu, saya membayangkan butir pasir yang kini terkunci dalam batuan ini dulu pernah menggelinding bebas di pesisir purba, menjadi bagian dari garis pantai yang pernah hidup, dinamis, dan mempesona.

Formasi Bulu

Formasi ini tersusun oleh batugamping. Ya, benar-benar semuanya batugamping. Umumnya batugamping dengan banyak skeletal fragment, serta batugamping terumbu berwarna putih hingga krem, keras, dan masif. Di beberapa lokasi, kami menemukan sisa-sisa kerangka koral yang terawetkan dengan baik, menjadi bukti bahwa wilayah ini dahulu adalah perairan hangat dan dangkal yang ideal untuk pertumbuhan terumbu. Pemetaan di area Formasi Bulu cukup menantang karena singkapan terletak di daerah berbukit dengan akses jalan terbatas.

Mengamati bongkah-bongkah batugamping masif ini, saya seperti menyelam ke laut tropis purba, melihat koloni koral raksasa berdiri megah di bawah permukaan air jernih. Ikan-ikan warna-warni berenang di celah-celah karang, sinar matahari menembus air menciptakan kilau di permukaan terumbu. Semua itu kini terdiam membeku dalam batu, menyimpan cerita tentang kehidupan laut yang pernah berjaya.

Formasi Wonocolo

Formasi Wonocolo didominasi batulempung abu-abu hingga kecoklatan, dengan sisipan batupasir halus dan batugamping tipis. Lingkungan pengendapannya diinterpretasikan sebagai laut dalam dengan dominasi sedimen lempung pelagik. Lapisan-lapisan tipis batuan karbonat pada Wonocolo menjadi saksi perubahan sementara energi lingkungan pengendapan.

Melihat lapisan-lapisan halus batulempung ini, saya merasa seperti berada di kedalaman laut sunyi yang gelap, di mana cahaya matahari tak lagi mampu menembus. Hanya organisme kecil yang perlahan mengendap di dasar laut, meninggalkan jejak tipis demi tipis. Laut dalam purba itu kini hanya tinggal kenangan, tetapi setiap sentimeter lapisan batuan ini adalah buku harian yang setia merekam waktu.

Pengalaman Pemetaan Geologi di Parengan

Dua puluh hari di Parengan, Tuban, terasa seperti membuka buku tebal yang setiap halamannya menyimpan cerita batuan jutaan tahun lalu. Setiap harinya selalu menjadi kisah baru yang terekam kuat di benak kami. Masih teringat jelas indahnya suasana “Rumah”. Ya, suasana rumah Bu Yun dan Pak Triyogo selaku tuan rumah “pondokan” kami.

Pagi hari kami awali dengan dinginnya air wudhu dari sumber mata air watuagar, dengan kerak kapur yang menodai kamar mandi. Ah, suara panggilan sarapan dari Bu Yun masih teringat di benak kami. Hangatnya sarapan, diringi suara sound horeg campursari, khas dari speaker Pak Tri. Lalu berpamitan dan memacu motor menuju ke lokasi singkapan menjadi pembuka hari. Setiap titik yang saya kunjungi menyajikan pemandangan berbeda—dari kumpulan batugamping (saya menyebutnya “kuburan” gamping), singkapan batupasir kuarsa, napal yang lapuk perlahan di tepi sungai, hingga batugamping tebal yang membentuk goa.

Pengamatan litologi dilakukan dengan teliti, mencatat setiap perubahan warna, ukuran butir, dan tekstur yang terlihat. Sesekali, kompas geologi diarahkan untuk mengukur kemiringan lapisan, sementara avenza dan buku catatan lapangan menjadi saksi dari setiap garis sketsa dan catatan singkat yang kelak akan bercerita kembali di meja kerja. Sampling pun dilakukan di titik-titik strategis; beberapa harus dibongkar dengan palu geologi, meninggalkan suara dentingan logam yang memantul di udara siang yang panas.

Fun Fact: Mata Air Panas di Kavling

Salah satu momen paling seru adalah ketika di kavling pemetaan saya ditemukan mata air panas yang cukup unik. Berdasarkan pengamatan langsung dan diskusi dengan dosen, sumber air panas ini kemungkinan besar adalah air formasi, yaitu air yang terperangkap dalam pori-pori batuan sejak proses pengendapan jutaan tahun lalu. Indikasinya, di sekitar keluarnya air panas terdapat endapan berwarna hitam pekat yang diduga merupakan mineral hasil interaksi air panas dengan material batuan. Fenomena ini tidak hanya memberi warna pada data lapangan kami, tetapi juga menjadi topik pembahasan hangat saat plotting peta.

Pelajaran di Luar Geologi

Kuliah lapangan ini tidak hanya mengajarkan geologi, tetapi juga mengajarkan cara berinteraksi dengan masyarakat dan memahami nilai kehidupan.

Kami menginap di rumah penduduk. Di sana saya belajar tentang keramahan dan kesederhanaan orang desa. Mereka menyambut kami dengan senyum hangat, menyediakan makanan, bahkan menawarkan bantuan ketika kami pulang dari lapangan dalam kondisi lelah dan kotor. Anak-anak desa penasaran melihat aktivitas kami, dan beberapa bahkan ikut mengamati singkapan sambil bertanya, “Ngapain masuk-masuk sungai, Mas?”, “Ini batu apa, Mas?”

Selain itu, pengalaman di Parengan mengajarkan banyak hal tentang manajemen diri—mulai dari mengatur waktu istirahat, menyiapkan perlengkapan lapangan, menjaga kesehatan, hingga tetap fokus meski tenaga terkuras. Walaupun pemetaan dilakukan secara individu, keberadaan teman-teman satu basecamp memberi dorongan tersendiri. Saling berbagi cerita hasil pengamatan, memberi saran lokasi singkapan, bahkan sekadar membantu menimbang sampel atau meminjamkan palu geologi, semua itu menciptakan suasana saling mendukung.

Tidak hanya itu, kuliah lapangan ini juga melatih manajemen konflik—bagaimana menjaga komunikasi dan sikap ketika pendapat berbeda, atau ketika tekanan pekerjaan membuat emosi memanas. Manajemen keuangan pun ikut terasah, mulai dari mengatur pengeluaran untuk makan, transportasi, hingga membeli perlengkapan darurat di tengah kegiatan. Belum lagi keterampilan problem solving saat menghadapi situasi tak terduga seperti alat yang rusak, cuaca yang tiba-tiba berubah, atau akses singkapan yang lebih sulit dari perkiraan.

Di sela-sela pekerjaan teknis, ada juga pelajaran tentang negosiasi dengan warga setempat, menjaga etika saat memasuki lahan milik orang lain, serta beradaptasi dengan fasilitas yang terbatas. Semua ini membentuk pemahaman bahwa seorang geolog bukan hanya harus cermat membaca batuan, tapi juga piawai membaca situasi manusia dan lingkungan di sekitarnya.

Penutup

Kuliah lapangan di Parengan, Tuban, adalah kombinasi sempurna antara tantangan ilmiah dan pengalaman hidup. Saya pulang bukan hanya dengan buku catatan penuh data, peta geologi yang lengkap, dan ransel berisi sampel batuan, tetapi juga dengan cerita-cerita yang akan saya kenang selamanya.

Pengalaman ini mengajarkan bahwa menjadi seorang geolog bukan hanya soal memahami bumi dari sudut pandang ilmiah, tetapi juga memahami manusia dan kehidupan di atasnya. Geologi memberi saya kemampuan membaca sejarah bumi, sementara masyarakat memberi saya pelajaran tentang bagaimana menjalani hari ini dan masa depan.

Seperti batuan yang merekam perjalanan jutaan tahun, saya berharap pengalaman ini juga akan menjadi lapisan penting dalam perjalanan hidup saya—sebuah fondasi untuk terus berkembang, belajar, dan berkontribusi.

 

Humas Departemen | Oktober 2025