“Pemetaan Geologi Daerah Pati–Grobogan, Jawa Tengah: Karst, Lipatan–Sesar, dan Dinamika Akuifer” (Menekankan pendekatan menyeluruh—litosfer, struktur)

Penulis: Rian Toni Eka Saputra

 

Daerah Pati–Grobogan, Jawa Tengah, terletak pada jalur lipatan dan sesar berarah barat–timur yang menjadi bagian dari zona Kendeng–Rembang di belakang busur vulkanik Jawa. Secara fisiografi, wilayah ini memperlihatkan peralihan morfologi yang jelas: di bagian utara–timur berkembang perbukitan kapur (karst) yang terjal dengan puncak–puncak terisolasi, dolina, dan gua yang terbentuk pada batu gamping masif dan berlapis, sedangkan di bagian tengah hingga selatan, khususnya di Grobogan, mendominasi perbukitan lempung–napal berlipat dengan lereng landai hingga sedang. Dari sudut pandang tektonik, daerah ini mengalami pengaruh kompresi berulang akibat subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia di selatan Jawa, yang memunculkan sistem lipatan antiklin–sinklin berarah barat–timur, sesar naik, dan sesar oblik. Zona Rembang di timur Pati tersusun terutama oleh batu gamping yang membentuk bukit-bukit karst Sukolilo, Kayen, dan sekitarnya. Zona Kendeng di Grobogan dan selatan Pati terdiri dari batulempung, napal, , dan wackestone, yang menunjukkan pengaruh sedimen karbonat.

Stratigrafi umum wilayah Pati–Grobogan dapat disusun dari tua ke muda sebagai berikut: (1) satuan karbonat yang terdiri dari batu gamping masif hingga berlapis, berwarna putih hingga abu-abu pucat, keras, dengan kandungan fosil terumbu (karang, moluska, foraminifera besar), diinterpretasikan sebagai endapan laut dangkal platform karbonat; (2) satuan napal dan batulempung berwarna abu-abu, kadang kehijauan, halus, plastis saat basah, sering mengandung fragmen foraminifera planktonik dan bentik, diinterpretasikan sebagai endapan laut dalam hingga menengah pada sistem busur belakang; Kontak antar satuan umumnya selaras, namun di beberapa tempat ditemukan ketidakselarasan lokal akibat pengangkatan lipatan dan erosi.

Struktur geologi di wilayah ini didominasi oleh lipatan berarah barat–timur dengan jarak antar punggungan beberapa ratus meter hingga beberapa kilometer. Lipatan umumnya memiliki plunge rendah (≤15°), namun di daerah transisi karbonat–napal, lipatan bisa lebih ketat. Sesar naik ditemukan memotong satuan batu gamping dan menempatkan karbonat di atas napal yang lebih muda, menunjukkan adanya inversi tektonik. Kekar berkembang baik, dengan set dominan tegak lurus jurus dan set sejajar jurus; pada batu gamping, kekar sering terisi kalsit membentuk urat (vein). Stylolite juga ditemukan sebagai bukti tekanan larut pada karbonat. Secara hidrogeologi, sistem akuifer karst di utara–timur Pati memiliki kapasitas besar namun fluktuasi debit tinggi, dan sangat rentan terhadap kontaminasi karena infiltrasi cepat melalui ponor dan rekahan. Batulempung dan napal di perbukitan berperan sebagai akuilud, yang menghambat pergerakan air tanah dan memunculkan mata air di kaki lereng.

Dari segi potensi sumber daya, daerah ini kaya akan batu gamping berkualitas baik yang dimanfaatkan untuk bahan baku semen, bahan bangunan, dan batu hias. Batulempung dan napal digunakan untuk pembuatan bata dan keramik, sementara material aluvial dimanfaatkan sebagai agregat konstruksi. Selain itu, daerah ini berada di koridor cekungan sedimen berpotensi hidrokarbon, meski indikasi lokal seperti rembesan minyak perlu ditindaklanjuti dengan data bawah permukaan.

Kendati demikian, wilayah Pati–Grobogan juga memiliki kerentanan terhadap bencana geologi. Lereng napal yang jenuh air pada musim hujan sering mengalami longsor tipe nendatan, rayapan, atau slump blok. Di kawasan karst, terdapat potensi sinkhole dan runtuhan atap gua akibat pelarutan aktif. Dataran rendah rawan banjir musiman, terutama ketika sistem drainase terganggu oleh sedimentasi. Penurunan muka tanah juga dapat terjadi di daerah berlanau–lempung jika air tanah dieksploitasi berlebihan.

Hasil pemetaan geologi di wilayah ini akan sangat membantu dalam memperjelas batas satuan litologi, memahami pola lipatan dan sesar, serta mengevaluasi pengaruh geologi terhadap distribusi air tanah, potensi sumber daya, dan risiko bencana. Integrasi data lapangan dengan pemodelan spasial berbasis GIS dapat mendukung perencanaan tata ruang yang mempertimbangkan konservasi air, mitigasi bahaya geologi, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan di Pati–Grobogan.

 

Humas Departemen | Oktober 2025