Kabupaten Purworejo adalah salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah yang memiliki variasi fisiografi, dari daerah rendah hingga kawasan perbukitan di sisi utara. Salah satu daerah pegunungan tersebut adalah Kecamatan Bruno, yang berada di bagian utara Kabupaten Purworejo. Kecamatan Bruno memiliki topografi yang terdiri dari perbukitan, lembah, dan sistem sungai yang berkembang dengan baik. Salah satu lokasi di Kecamatan Bruno yang menarik untuk diteliti dari sudut pandang geologi adalah Desa Plipiran dan daerah sekitarnya. Desa Plipiran memiliki keadaan geomorfologi yang ditandai oleh bukit-bukit dan lembah-lembah yang banyak terdapat aliran sungai, sumber mata air, curug, dan air terjun. Secara regional, wilayah Bruno terletak dalam konteks Zona Serayu Selatan dan terdiri atas beberapa satuan batuan, termasuk Formasi Halang dan Formasi Peniron. Formasi Halang umumnya terdiri dari perselingan batupasir, batulanau, batulempung, tuf, dan breksi, sedangkan Formasi Peniron lebih sering ditemukan dalam bentuk breksi, batupasir, dan batuan vulkaniklastik.
Karakteristik dan ketahanan batuan pada Formasi Halang dan Peniron yang berbeda terhadap pelapukan dan erosi dapat berpengaruh pada pembentukan bentuklahan di area penelitian. Arus sungai yang mengalir melalui batuan dengan tingkat ketahanan yang bervariasi dapat menciptakan perbedaan kecepatan erosi dan membentuk teras di dasar sungai. Keadaan itu, ditambah dengan kemiringan lereng serta struktur geologi, dapat mempengaruhi timbulnya berbagai curug dan air terjun di sekitar Desa Plipiran. Kondisi ini membuat Desa Plipiran dan daerah sekitarnya menarik untuk melakukan pemetaan geologi. Pemetaan dilakukan untuk memahami distribusi litologi, struktur geologi, keadaan geomorfologi, serta keterkaitan antara kondisi batuan dengan eksistensi curug dan sumber air. Hasil pemetaan dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi potensi geologi suatu daerah, terutama sebagai landasan bagi pengembangan geowisata dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Kondisi Geologi
Berdasarkan Peta Geologi wilayah Plipiran dan sekitarnya, daerah pemetaan terdiri atas tiga satuan batuan, yaitu Satuan Batupasir, Satuan Breksi Andesit, dan Satuan Breksi Polimik Satuan batupasir diwarnai kuning dan memiliki sebaran yang luas, terutama di bagian tengah hingga utara area pemetaan. Unit ini umumnya ditandai oleh batuan sedimen batupasir yang dapat mengalami pelapukan dan erosi akibat kegiatan air permukaan.Pada bagian ini banyak ditemukan perselingaan batupasir dan batu lanau serta batupasir sisipan tufan dengan persebaran yang cukup merata.
Satuan Breksi Andesit terlihat dengan warna cokelat dan terutama menyebar di bagian timur serta sebagian barat area pemetaan. Satuan ini memiliki sifat batuan yang cenderung lebih tahan terhadap pelapukan dan erosi jika dibandingkan dengan batuan sedimen yang lebih rentan lapuk. Sementara itu, Satuan Breksi Polimik ditandai dengan warna oranye dan tersebar di wilayah barat daya area pemetaan. Adanya breksi yang terdiri dari fragmen batuan yang bervariasi menunjukkan adanya material vulkanik yang telah melewati proses transportasi dan pengendapan.
Adanya struktur sesar geser kanan yang membentang dengan arah umum relatif utara–Selatan dan beberapa data strike dan dip yang mengindikasikan adanya lapisan batuan dengan arah tertentu. Sesar geser pada area ini adalah sesar mayor yang membentang cukup luas pada daerah Purworejo. Sedangkan stuktur minor yang terbentuk akibat adanya sesar mayor ini adalah adanya sesar turun dengan arah NE-NW pada bagian timur pemetaan. Struktur geologi ini memberikan dampak pada pembentukan lembah dan pola aliran sungai, terutama jika sungai mengalir mengikuti area lemah pada batuan.
Kondisi Geomorfologi
Berdasarkan Peta Geomorfologi, wilayah pemetaan dapat dikategorikan menjadi tiga unit geomorfologi, yaitu Unit Dataran Banjir Brunorejo, Unit Punggungan Aliran Lava Grijoyo, dan Unit Punggungan Cuesta Pakisarum.
Satuan Dataran Banjir Brunorejo terletak terutama di bagian tengah area pemetaan dan ditandai dengan warna hijau. Satuan ini memiliki morfologi yang cenderung lebih rendah dan berkaitan dengan aktivitas sungai. Material yang ada pada satuan ini biasanya terkait dengan proses fluvial, seperti akumulasi material dari erosi di daerah yang lebih tinggi. Satuan Punggungan Aliran Lava Grijoyo ditandai dengan warna merah dan mendominasi area timur serta sebagian barat dari daerah pemetaan. Satuan ini mempunyai morfologi bukit dengan relief yang lebih tinggi dan lereng yang lebih curam. Keadaan itu dapat mengakibatkan aliran permukaan terbentuk dengan energi erosi yang cukup tinggi.
Satuan Punggungan Cuesta Pakisarum ditandai dengan warna ungu dan terutama berkembang di bagian barat hingga barat daya area pemetaan. Bentuklahan cuesta mencerminkan pengaruh dari struktur dan kemiringan lapisan batuan terhadap evolusi morfologi. Perbedaan kekuatan batuan dan sudut lapisan mengakibatkan pembentukan punggungan dengan kemiringan yang berbeda di kedua sisinya.
Kondisi geomorfologi area pemetaan secara umum menunjukkan keterkaitan yang cukup dekat dengan kondisi geologinya. Wilayah dengan ketinggian yang tinggi dan lereng curam cenderung menjadi sumber material dan mengalami proses erosi yang lebih besar, sementara wilayah yang lebih rendah menjadi area yang berkembangnya lembah dan pengendapan material dari sungai. Paduan antara variasi litologi, struktur geologi, kemiringan lereng, dan proses fluvial tersebut juga dapat memfasilitasi terbentuknya jeram, curug, dan air terjun di beberapa bagian wilayah pemetaan.
Fitur Geologi dan Potensi Geologi

Desa Plipiran dan sekitarnya memiliki karakteristik geologi yang menarik, salah satunya berupa perselingan batupasir ukuran medium hingga sangat halus. Berdasarkan pengamatan lapangan, batupasir yang dijumpai memperlihatkan variasi ukuran butir dari sedang hingga sangat halus dan tidak bereaksi dengan HCl. Ketidakadaan reaksi HCl menunjukkan bahwa batuan tersebut tidak mengandung mineral karbonat dalam jumlah yang signifikan, sehingga karakteristik batuan lebih dipengaruhi oleh material silisiklastik. Perubahan ukuran butir tersebut mengindikasikan adanya perubahan kondisi sedimentasi atau energi dari media pengangkut saat pembentukan batuan berlangsung.Rentang ukuran butir juga bisa memengaruhi karakteristik fisik batuan, terutama porositas dan permeabilitas. Batupasir dengan ukuran medium biasanya memiliki ruang antarbutir yang lebih luas dibandingkan dengan batupasir berukuran sangat halus, sehingga air dapat meresap lebih mudah jika pori-porinya saling terkoneksi. Sebaliknya, lapisan batupasir sangat halus memiliki permeabilitas yang cenderung lebih rendah. Perbedaan karakteristik ini dapat mengakibatkan aliran air di bawah tanah terfokus pada batas atau interaksi antara lapisan-lapisan batuan. Saat air mencapai permukaan di area lereng atau tebing sungai, situasi ini bisa berkembang menjadi mata air dan berperan dalam pembentukan aliran sungai.Perselingan batupasir dengan ukuran butir yang bervariasi juga memengaruhi daya tahan batuan terhadap erosi. Lapisan yang lebih tahan dapat bertahan lebih lama terhadap erosi, sementara lapisan yang lebih rentan terhadap pelapukan dan pengikisan akan terkikis dengan cepat. Perbedaan dalam kecepatan erosi tersebut bisa menciptakan bentuk lahan seperti undakan atau tebing di sepanjang aliran sungai. Jika perbedaan ketinggian yang terjadi cukup signifikan, aliran air akan turun secara vertikal atau hampir vertikal, menciptakan curug atau air terjun
Terbentuknya curug di area pemetaan dipengaruhi tidak hanya oleh litologi, tetapi juga oleh kemiringan lereng, struktur geologi, dan proses pengikisan fluvial. Sungai yang mengalir di daerah dengan elevasi relatif tinggi memiliki energi lebih besar untuk mengikis dasar sungai. Saat arus itu melintasi perselingan batuan yang memiliki tingkat resistensi berbeda, erosi akan terjadi dengan cara yang tidak merata dan menghasilkan knickpoint. Perkembangan knickpoint itu dapat menghasilkan air terjun.
Dengan demikian, keberadaan perselingan batupasir sedang hingga sangat halus di kawasan Plipiran berkaitan dengan kemajuan fitur geologi dan geomorfologi setempat. Keterkaitan antara variasi ukuran butir, perbedaan ketahanan terhadap erosi, sifat permeabilitas, kemiringan lereng, serta aktivitas aliran sungai merupakan faktor yang mendukung pembentukan curug dan air terjun. Kondisi ini menghasilkan potensi geologi sekaligus potensi geowisata untuk daerah pemetaan, karena curug dapat digunakan sebagai objek wisata geologi dan sebagai alat edukasi terkait hubungan antara batuan dan proses geomorfologi.
Kontribusi Pemetaan Terhadap SDGs
Kontribusi Pemetaan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), pemetaan geologi di Desa Plipiran dan daerah sekitarnya tidak hanya memberikan informasi tentang keadaan geologi dan geomorfologi, namun juga dapat mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Hasil pemetaan tentang distribusi batuan, keadaan lereng, sungai, mata air, curug, dan air terjun dapat menjadi acuan dalam pengelolaan sumber daya alam serta pengembangan potensi daerah dengan lebih tepat.
Salah satu sumbangannya berkaitan dengan SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi yang Layak). Kehadiran sumber air dan sistem sungai di wilayah pemetaan sangat berarti bagi masyarakat. Pemetaan dapat membantu menemukan lokasi sumber air serta kondisi lingkungan sekitarnya, sehingga mendukung upaya perlindungan terhadap sumber daya air dan daerah aliran sungai.Selanjutnya, potensi curug dan air terjun dapat dimanfaatkan untuk mendukung SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan wisata geologi. Adanya objek wisata yang berfokus pada geologi dapat menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, seperti layanan pemandu, pengelolaan pariwisata, dan usaha lokal. Perkembangan itu harus tetap mempertimbangkan kapasitas lingkungan agar tidak menimbulkan kerusakan pada area pariwisata. Pemetaan juga dapat mendukung SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dengan memberikan informasi terkait keadaan geologi dan geomorfologi. Data tentang area dengan kemiringan curam, arus sungai, dan kemungkinan ketidakstabilan lereng dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan dalam pengelolaan kawasan dan penanganan bencana, khususnya tanah longsor.
Di samping itu, pelestarian lingkungan di sekitar curug, sungai, dan kawasan perbukitan dapat mendukung SDG 15 (Ekosistem Daratan). Melindungi vegetasi, sumber air, dan lingkungan di sekitar curug sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan keberlanjutan fungsi kawasan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, hasil dari pemetaan geologi dapat digunakan sebagai landasan dalam pemanfaatan potensi geologi wilayah Plipiran secara berkelanjutan sambil tetap memperhatikan aspek lingkungan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.
Kesimpulan
Wilayah Plipiran dan sekitarnya, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, memiliki potensi geologi dan geowisata yang menarik. Di tingkat regional, wilayah ini terletak dalam konteks Zona Serayu Selatan dan memiliki topografi berbukit dengan sistem sungai yang berkembang. Kondisi ini berhubungan dengan kehadiran Formasi Halang dan Formasi Peniron yang menunjukkan beragam litologi dan karakteristik batuan. Perbedaan ketahanan batuan terhadap erosi dan pelapukan, ditambah dengan kemiringan lereng, struktur geologis, serta aktivitas aliran sungai, berkontribusi pada pembentukan lembah, tebing, jeram, curug, dan air terjun. Dengan demikian, jumlah curug di wilayah Plipiran dapat terbentuk sebagai akibat interaksi antara faktor geologi dan proses geomorfologi. Kegiatan pemetaan geologi dapat memberikan data tentang distribusi batuan, struktur dan morfologi yang nanti nya akan bisa mengindentifikasi fitur fitur geologi seperti curug atau aur terjun, Data tersebut bisa digunakan untuk pengembangan geowisata yang melibatkan masyarakat serta mendukung pelestarian sumber daya air dan lingkungan. Melalui pengelolaan yang baik, potensi geologi kawasan Plipiran dapat memberikan keuntungan ilmiah, sosial, ekonomi, dan lingkungan serta berperan dalam pencapaian SDGs.
Daftar Pustaka
Efriansyah, R. (2013). Geologi dan Studi Fasies Turbidit Formasi Halang Daerah Brunorejo dan Sekitarnya, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. UPN “Veteran” Yogyakarta.
Jatmiko, T., Pratiknyo, P., & Widada, S. (2017). Model karakterisasi akuifer Formasi Halang berdasarkan kajian litofasies daerah Brunorejo dan sekitarnya, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Ramadhina, P. (2017). Geologi dan Studi Diagenesis Batupasir Formasi Halang, Daerah Cepedak dan Sekitarnya, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. UPN “Veteran” Yogyakarta.
Salsabilla, N., Lukito, H., & Yogafanny, E. (2021). Indeks kekritisan mata air di Dusun Peniron Kulon, Desa Plipiran, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Ilmiah Lingkungan Kebumian, 3(2)
Penulis: Chantika Permata (Geo-24)
Humas Departemen | September 2026