Lokasi: Kecamatan Karangkobar dan Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah
Kegiatan pemetaan geologi merupakan salah satu tahapan penting dalam memahami kondisi permukaan dan bawah permukaan (menggunakan sayatan geologi) suatu wilayah, baik untuk kepentingan akademik, mitigasi bencana, maupun perencanaan pembangunan. Pada kesempatan ini, kegiatan pemetaan geologi dilakukan di kavling saya yang berada di wilayah Kecamatan Karangkobar, Kecamatan Wanayasa, dan sekitarnya, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah. Aktivitas pemetaan meliputi pengamatan singkapan batuan, pengukuran kedudukan lapisan batuan (strike/dip), pengamatan struktur geologi, identifikasi jenis litologi, serta pencatatan kondisi morfologi di sepanjang lintasan pemetaan. Data lapangan tersebut kemudian diolah menjadi peta geologi yang menggambarkan sebaran satuan batuan, pola struktur, dan bentang alam pada kavling.

Secara geologi, kavling pemetaan saya menyimpan keragaman fitur yang cukup kompleks. Dari sisi struktur geologi, ditemukan indikasi sesar sinistral (mengiri) serta struktur lipatan berupa antiklin, yang menunjukkan wilayah ini pernah mengalami deformasi akibat gaya tektonik kompresi. Litologi penyusun daerah ini terdiri atas batulanau dan batupasir dari Formasi Rambatan, lava andesit serta breksi andesit dari Formasi Jembangan, breksi andesit dari Formasi Tapak, dan lempung tufaan dengan sisipan lapisan batubara (coal) yang berkedudukan tegak pada Formasi Ligung. Selain satuan batuan tersebut, dijumpai pula tubuh andesit intrusi yang menerobos batuan di sekitarnya. Menariknya, pada zona dekat kontak intrusi ditemukan mineralisasi pirit yang hadir pada Formasi Rambatan yang telah mengalami kontak dengan intrusi, tepatnya pada batupasir gampingan. Dari sisi bentang alam, morfologi kavling ini didominasi oleh punggungan-punggungan hasil aliran lava, mencerminkan riwayat aktivitas vulkanik yang membentuk topografi wilayah. Selain aspek geologi murni, tercatat pula fenomena geologi terapan berupa longsor yang mengakibatkan putusnya total ruas jalan, yakni Jalan Sasak Bantar, sebagai dampak nyata dari kondisi litologi dan struktur yang labil di wilayah tersebut.

Kegiatan pemetaan geologi di kavling ini memberikan sejumlah kontribusi penting bagi pemahaman dan pengelolaan wilayah setempat. Pertama, identifikasi struktur sesar dan lipatan membantu menjelaskan pola kestabilan lereng di kawasan yang secara topografi cukup terjal, sehingga dapat menjadi masukan bagi mitigasi bencana longsor, termasuk kasus terputusnya Jalan Sasak Bantar. Kedua, pemetaan litologi dan zona mineralisasi pirit di sekitar intrusi andesit memberikan informasi awal mengenai potensi sumber daya mineral . Ketiga, pemahaman terhadap morfologi punggungan aliran lava dapat dimanfaatkan untuk perencanaan tata guna lahan, penentuan jalur infrastruktur yang lebih aman, serta konservasi kawasan resapan air. Dengan demikian, hasil pemetaan tidak hanya bernilai ilmiah, tetapi juga aplikatif bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan dan pengurangan risiko bencana di Kecamatan Karangkobar, Wanayasa, dan sekitarnya.
Bila dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), kegiatan pemetaan geologi ini relevan dengan beberapa poin sekaligus. Temuan longsor yang memutus akses Jalan Sasak Bantar berkaitan erat dengan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), khususnya dalam aspek pengurangan risiko bencana dan penguatan ketahanan infrastruktur wilayah. Identifikasi mineralisasi pirit di sekitar intrusi juga berkaitan dengan SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), mengingat potensi pencemaran air akibat oksidasi mineral sulfida perlu diantisipasi sejak dini, sekaligus relevan dengan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam hal menjaga kualitas lahan dan lingkungan sekitar. Selain itu, pemetaan sumber daya geologi turut mendukung SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penyediaan data dasar kebumian yang dapat menjadi acuan pembangunan infrastruktur yang lebih tahan terhadap kondisi geologi setempat. Secara keseluruhan, kegiatan pemetaan geologi di kavling Kecamatan Karangkobar dan Wanayasa ini menunjukkan bahwa ilmu kebumian memiliki peran strategis, tidak hanya untuk memperkaya pengetahuan geologi regional, tetapi juga untuk mendukung pembangunan wilayah yang lebih aman, berkelanjutan, dan berwawasan lingkungan.
Penulis: Hanif Murthado
Humas Departemen | Agustus 2026