Pagi itu, hawa dingin terasa menusuk kulit. Dari ventilasi jendela, hanya terdengar kicauan burung. Jalan-jalan nampak lenggang. Pagi itu, belum ada aktivitas manusia yang mencolok. Itulah, mustika baru berhasil kami temukan ketika kami berada di wilayah Bruno. Sebuah daerah asing yang tidak kami pikirkan sebelumnya.
Sebetulnya kami skeptis dan mengira kuliah lapangan mandiri akan menjadi hal yang merepotkan dan menyusahkan. Wilayah Bruno memiliki medan yang luar biasa terjal. Setiap hari, kaki-kaki kami harus berhadapan dengan topografi menantang yang didominasi oleh litologi breksi andesit. Batuan keras yang membentuk topografi yang begitu curam, namun ajaibnya lahan-lahan ekstrem itu tidak dibiarkan kosong begitu saja. Masyarakat dan alam seolah berbagi ruang dengan menyulap lereng-lereng curam menjadi pemukiman, persawahan, perkebunan kopi, hingga deretan hutan pinus milik Perhutani yang menjulang memagari langkah kami setiap hari.


